SASIH

Menjaga kelestarian alam Bali melalui kader Sahabat Konservasi Hebat

Youth Conservation Initiative (YCI) merupakan gerakan yang mandiri dan berkelanjutan berperan menyebarkan kesadaran solusi bagi masyarakat untuk kelestarian alam Bali melalui kader Sahabat Konservasi Hebat (SASIH). 

Dalam program dan kegiatan YCI Bali kader SASIH yang berada diberbagai institusi pendidikan, komunitas maupun tempat kerja, telah melalui 4 (empat) langkah yaitu Kesadartahuan, Kontribusi, Koneksi dan Kompetensi. Proses perjalanan tersebut mendorong kader SASIH menjadi duta atau teladan bagi yang lain sehingga bersama-sama membentuk komunitas kaum muda yang memiliki integritas dan perilaku bertanggung jawab terhadap konservasi alam. Pada akhirnya kaum muda dapat membawa pengaruh yang baik dalam proses berperilaku di masyarakat luas.

 

Kader SASIH mrupakan siswa SMP, SMA hingga mahasiswa perguruan tinggi di Bali yang tertarik dalam isu lingkungan khususnya konservasi. Melalui SASIH, YCI Bali akan berfokus pada pengembangan kreativitas dan kapasitas generasi muda mencakup:

1. Kesadartahuan

Merupakan langkah awal dan fundamental dalam pembetukan perilaku kaun muda untuk sadar, mengetahui, mengenal dan memakai konservasi baik dari sisi filosofis maupun pengetahuan sehingga permasalahan terkait konservasi yang terjadi di Bali dan tergerak menjadi bagian dari solusi berlandaskan kesadartahuan tersebut

2. Kontribusi

Kaum muda yang tergerak menjadi bagian dari solusi untuk mewujudkan kontribusi nyata melalui kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan di bidang lingkungan dan topik-topik yang tekait didalamnya

3. Koneksi

Koneksitas adalah sarana yang ampuh untuk menghubungkan seluruh kaum muda dengan dunia. Mengopimalkan teknologi  dan relasi sosial yang setara membuka forum kreativitas bagi kaum muda di Bali untuk menjadi inspiratory dan teladan bagi sesama kaum muda sekaligus memperkuat jejaring untuk memperkuat gerakan kaum muda dalam konservasi alam diseluruh dunia menjadi berkelanjutan.

4. Kompetensi

Melalui kesungguhan dan ketekunan dalam proses kesadartahuan, kontribusi dan koneksi pada akhirnya membentuk kaum muda yang memiliki kompetensi premium. Kompetensi ini menjadikan kaum mudatangguh dan mandiri serta mampu melakukan hal hal nyata dalam konservasi alam dengan berbagai aktor atau stakeholder secara berkelanjutan.