LIVE IN YCI BALI 2019

LIVE IN YCI BALI 2019 : Menumbuhkan Jiwa Konservasi Generasi Muda

70 % permukaan bumi tempat kita berpijak selama ini, tersusun oleh air. Komposisi air dalam tubuh setiap individu pun tak kalah dari itu, persentasenya sekitar 65 – 70 % dari berat tubuh. Air merupakan inti sari kehidupan, karena hampir setiap kegiatan atau mungkin setiap detiknya kita memerlukan air. Air merupakan salah satu sarana yang diperlukan makhluk hidup untuk menopang keberlangsungan hidup mereka. Entah manusia, hewan ataupun tumbuhan. Tetapi nyatanya, suara sumbang masih terdengar di berbagai belahan dunia tentang krisis atau mungkin defisit air. Tak terkecuali Indonesia. Mengapa bisa? Bukankah 2/3 wilayah Indonesia adalah perairan? Tidak cukupkah itu?

Meskipun demikian, realitanya beberapa daerah di Indonesia mengalami defisit air. Bahkan satu diantaranya adalah Bali, pulau yang terkenal akan keindahan alam dan budayanya di dunia Internasional. Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Karangasem adalah bukti nyata defisit air telah menyapa Bali. Disaat kita bisa menikmati air dari PAM atau melalui Sumur BOR, masyarakat disana justru harus memutar otak untuk memenuhi ketersediaan air sekedar untuk minum. Hal tersebut bukan baru terjadi, tadi sudah hampir puluhan tahun. Upaya yang masyarakat lakukan selama ini untuk menghadapi defisit air tersebut adalah membuat sebuah tempat penampungan air hujan. Hal tersebut sedikit membantu tetapi, jikalau hujan tidak turun, mereka terpaksa harus membeli 1 tangki air seharga Rp. 130.000 untuk memenuhi persediaan air mereka selama 1 atau 2 minggu.

 Kira – kira apa penyebabnya? Beragam hal dapat menjadi penyebabnya seperti : pencemaran lingkungan akibat era yang semakin modern, perilaku membuang sampah sembarangan, limbah pabrik yang dibuang tanpa disaring, kurangnya tutupan pohon atau mungkin sikap apatis yang dimiliki oleh masyarakat terhadap kondisi lingkungan.

Dengan mengangkat tema “Konservasi Air”, pada 8 – 10 Juli 2019 Conservation International Indonesia mengadakan Live In Desa Dukuh sebagai penunjang program Youth Conservation Initiative (YCI) Bali. Melalui kegiatan tersebut, CI Indonesia mengajak generasi muda dari berbagai instansi untuk ikut merasakan bagaimana kehidupan masyarakat Desa Dukuh ditengah keterbatasan air. YCI sendiri merupakan suatu gerakan mandiri berkelanjutan yang menyebarkan kesadaran dan solusi bagi masyarakat untuk kelestarian alam bali yang berfokus mengembangkan kreativitas dan kapasitas generasi muda yang mencakup 4K yakni Kesadartahuan, Kontribusi, Koneksi, dan Kompetensi. Dengan terjun langsung mengobservasi dan merasakan sendiri keadaan masyarakat maka diharapkan nantinya generasi muda dapat membuka mata dan turut berpartisipasi untuk konservasi di alam Bali melalui Sahabat Konservasi Hebat (SASIH) YCI Bali.

Kegiatan Live In sendiri dikemas dengan santai tetapi penuh edukasi terkait konservasi. Peserta berangkat setelah berkumpul di Kantor Conservation International Indonesia di Bali menggunakan Bus selama sekitar 3,5 jam. Kemudian berjalan beberapa kilometer untuk menuju tempat perkemahan yang terletak di kebun rumah warga.

Di hari pertama, masing – masing peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diserahkan ke keluarga asuh yang merupakan warga lokal Desa disana. Setelahnya mereka langsung diarahkan untuk membantu dan merasakan kegiatan sehari – hari warga seperti : membuat tuak, membuat gula merah, memanen siwalan, memberi pakan ternak, pergi ke kebun,dll lalu menyiapkan dan menikmati makan malam di keluarga masing – masing. Dan setelahnya peserta kembali ke tenda dan beristirahat.

Hari kedua adalah hari yang panjang dan penuh pembelajaran bagi para peserta karena berkegiatan sedari pagi. Pagi harinya, peserta langsung menuju Hutan Desa Dukuh di Kaki Timur Gunung Agung dan membantu mengisi irigasi tetes sebagai upaya mensukseskan kegiatan deforestasi bentang alam gunung agung. Setelah turun dari kaki gunung, rombongan langsung menuju ke Embung Desa Dukuh, tempat penampungan air hujan di daerah yang lebih tinggi sebelum didistribusikan. Peserta juga diajak melihat Simantri di Desa Dukuh, Kelompok Tani Hutan, pembuatan gula semut (gula merah yang dihaluskan)dan pemisahan serat gebang. Lalu peserta diajak ice breaking di lahan bekas tanaman gebang sebelum melakukan sharing discussion untuk kegiatan hari kedua.

Di hari terakhir, peserta diajak untuk melihat alat dekomposer dan demo pembuatan minyak dari sampah plastic dengan alat sederhana bermetode pirolisis sebelum membersihkan area perkemahan.

Selama 3 hari 2 malam peserta dapat mengobservasi bahwa Masyarakat Desa Dukuh berharap akan adanya tindakan lebih dari pemerintah terkait pembenahan sistem distribusi air, infrastruktur desa dan pengembangan objek wisata. Sebagai upaya membantu masyarakat disana, CI Indonesia juga melakukan beberapa pendampingan dengan sumber daya yang ada agar ekonomi masyarakat tidak turut kritis, diantaranya : pemanfaatan serat gebang untuk kerajinan, pemanfaatan nira siwalan sebagai gula merah/ gula semut, pembudidayaan mente, dll. CI Indonesia juga mengarahkan masyarakat untuk membentuk kelompok Tani Hutan guna menyiapkan bibit tanaman di musim hujan serta pembudidayaan cendana dan Simantri guna mengefektifkan hewan ternak. Selain kegiatan pedampingan pada warga, CI juga melakukan konservasi terhadap hutan di wilayah dukuh (Reforestasi Bentang Alam Gunung Agung) dengan melakukan penanaman 1400 pohon guna membentuk tutupan pohon yang baik di Hutan Lindung Desa Dukuh.

Banyak sekali pelajaran dan hal baru yang didapatkan bagi masing – masing peserta. Melalui Live In ini, CI Indonesia ataupun masyarakat Desa Dukuh berharap, agar generasi muda yang merupakan penerus Pulau ini menjadi sadar dan menumbuhkan jiwa konservasi agar alam Bali senantiasa lestari serta pemanfaatan dan keberadaan air pun turut terjamin dikemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *