Permanent Agriculture 101

Di kisaran tahun 1970 an, di Indonesia sempat terjadi peristiwa dimana pertanian terkontaminasi oleh senyawa logam berat atau cadmium yang berada pada pestisida atau pupuk kimia yang disemprotkan ke tanaman. Peristiwa terkontaminasinya tanah pertanian oleh cadmium/senyawa logam ini dapat menyebabkan penyakit dan menyerang beberapa organ terutama seperti jantung, hati, paru-paru, dan patah tulang. Selain itu, seperti yang kita ketahui penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebih dapat merusak tanah.

Pada sekitar tahun tersebut, permanent agriculture muncul dan menjadi solusi untuk salah satu masalah pertanian tadi. Permaculture dipraktekkan atau ditemukan pertama kali oleh, Bill Mollison dan David Holmgren, menciptakan istilah permakultur pada pertengahan 1970-an, sebagai gabungan dari pertanian permanen dan budaya permanen. Saat itu, pengertian permakultur didefinisikan sebagai “Sebuah sistem terintegrasi dan kian berevolusi yang terdiri dari spesies tanaman dan hewan yang hidupnya tahan lama (awet) dan berguna untuk umat manusia“.

Berada di hutan hujan Tasmania memberi Bill Mollison struktur dasar untuk apa yang menjadi inovasi utama dalam hidupnya — Sistem Desain Permakultur: gagasan bahwa kita dapat merancang sistem berkelanjutan yang memungkinkan kita untuk hidup sesuai dengan kemampuan ekonomi dan ekologi kita dan menikmati kemakmuran yang sederhana.

Akan tetapi, definisi atau arti permakultur yang lebih baru juga bisa dirumuskan sebagai “lanskap yang dirancang secara sadar, yang mampu menirukan pola dan interaksi yang ada di alam, sembari menghasilkan makanan, serat, dan energi untuk pemenuhan kebutuhan (masyarakat) lokal”

Permakultur adalah filosofi bekerja dengan alam, bukan melawan alam; pengamatan yang berlarut-larut dan bijaksana daripada kerja yang berlarut-larut dan tanpa berpikir; dan melihat tumbuhan dan hewan dalam semua fungsinya, daripada memperlakukan area mana pun sebagai sistem produk tunggal.

Dibangun dengan etika permakultur yang berbasis ‘solusi triple-win’ yaitu Earth Care/merawat Bumi, People care/merawat individu/komunitas dan Fair share/Pembagian sumber daya secara adil. Jadi 3 etika inilah yang menjadi pondasi untuk menerapkan permanen agrikultur.

  1. Earth Care (Merawat Bumi)
    Prinsip dasar dari etika ini ialah untuk merawat dan menjaga alam, baik tanahnya, airnya, iklim, maupun aspek-aspek lain. Meski begitu, visi yang awalnya bertujuan untuk menjaga dan merawat semua makhluk hidup maupun benda mati kini berkembang dan turut mengakomodir pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang keputusan-keputusan yang dibuat manusia dalam kesehariannya. Keputusan-keputusan itu sebagian besar berkaitan dengan pola konsumsi manusia, seperti pakaian yang kita pakai dan makanan yang kita santap.

Bukan, permakultur tidak mengharuskan setiap orang untuk menanam bahan makanannya sendiri dan membangun rumah impian kita sendiri, akan tetapi penting untuk diingat bahwa kita memiliki tanggung jawab sekaligus kekuatan sebagai konsumen/pembeli. Oleh karena itu, gunakan kekuatan itu dengan baik dan jadilah konsumen yang bijak.

  1. People Care (Merawat Individu dan Komunitas)
    Prinsip ini menekankan bahwa kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi, mulai dari makanan, tempat berlindung, pendidikan, pekerjaan, serta hubungan antar manusia yang sehat. Selain itu, setelah selesai dengan urusan memenuhi kebutuhan hidup dasar, fokus selanjutnya ialah untuk mewujudkan dan memberdayakan kekuatan dari komunitas.

Jika satu individu saja bisa melakukan perubahan, maka bayangkan perubahan lebih besar apa lagi yang mampu dicapai oleh sebuah komunitas masyarakat yang kuat dan berdaya. Baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, seseorang bisa merasakan keuntungan dari memberdayakan dan memberikan kembali untuk komunitas lokal mereka.

Layaknya tetangga yang saling membantu satu sama lain, komunitas yang kuat bisa menjadi awal mula transformasi sosial yang dimulai dari gerakan-gerakan akar rumput.

  1. Fair Share (Pembagian yang Adil)
    Etika yang terakhir dan tidak kalah penting berkaitan dengan pemahaman bahwa kita hanya memiliki satu bumi, dan kita harus berbagi ruang hidup yang hanya satu ini dengan semua makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, sekaligus untuk generasi mendatang.

Dengan kata lain, tidak cukup jika kita hanya merancang ruang atau lanskap yang menguntungkan diri sendiri dan komunitas kita, sementara di bagian dunia lain masih banyak orang-orang yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar dan hak hidup mereka, seperti misalnya air bersih, tempat berlindung, dll. Kenyataan pahit yang harus kita terima sekarang adalah bahwa negara-negara maju menggunakan sumber daya yang setara dengan 3 bumi! Sementara di sisi lain, banyak negara-negara berkembang yang masih harus bergumul dengan kelaparan dan kemiskinan.

Hal inilah yang ingin diangkat oleh etika Fair Shares: bahwa ada disparitas dan ketidakmerataan yang mendalam di antara masyarakat dunia, yang kemudian menuntut kita untuk membatasi konsumsi (terutama sumber daya alam) di negara-negara maju.

Permakultur adalah alat, desain, & pemeliharaan sadar untuk menciptakan mode produksi bertani yang efisien dan produktif agar kuat menopang diri mereka sendiri ke masa depan dengan meregenerasi keanekaragaman hayati dan kehilangan kesuburan. Permakultur biasanya disebut bersama dengan menanam sayuran, berkebun, dan berkebun di dapur.

Kegiatan yang diterapkan dalam permakultur meliputi pengelolaan sumber daya air terintegrasi yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan. Selain itu untuk mengelola habitat dan sistem pertanian regeneratif yang terpelihara dengan model dari ekosistem alam. Hal ini tentu dilandasi dengan sebuah etika yang termuat dalam sistem permanent agriculture, yaitu : earth care/merawat bumi, people care/merawat individu/komunitas, dan fair share/pembagian yang adil. Ketiga etika tersebut saling melengkapi dan menjadi budaya hidup bagi pelaku permakultur.

Konsep utamanya adalah untuk menciptakan lanskap yang mampu mensimulasi lingkungan alam, terutama dalam hal bagaimana alam membentuk siklus yang melingkar dan tertutup, sehingga tidak ada sampah yang dihasilkan, sembari menghasilkan sesuatu yang berguna untuk manusia.

Disiplin ilmu permakultur didasarkan pada observasi mengenai apa yang membuat sistem alam bekerja dan tahan lama, kemudian merumuskan prinsip yang sederhana dan efektif, dan pada akhirnya mengaplikasikan prinsip tersebut untuk mereplika alam dalam segala hal yang kita buat, mulai dari taman, kebun, bangunan, komunitas, dan bahkan kota atau perkotaan.

Manfaat dan Dampak
Sebagai sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan, permakultur tentu memiliki dampak dan manfaat bagi pertanian di Indonesia yaitu
Penerapan permakultur dapat menjadi solusi bagi petani untuk perlahan-lahan meninggalkan pola tanam monokultur. Dengan berbagai praktik permakultur, seperti wanatani, petani dapat menanam berbagai tumbuhan pertanian dan memperoleh bahan pangan yang bervariasi tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan.

Dapat membantu petani untuk mencegah OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) karena permaculture yang terdiri dari berbagai tanaman dan ekosistem alami di dalamnya, memiliki tingkat daya tahan terhadap hama yang jauh lebih tinggi dibanding monokultur

Mempertahankan kesejahteraan apabila harga bahan pangan tertentu jatuh di pasar. Hal ini dikarenakan, permaculture merupakan sistem pertanian yang bisa dikatakan organik sehingga harga sayuran hasil permakultur memiliki harga yang sama seperti sayuran organik yang bernilai lebih tinggi
Mengandalkan pemain besar dalam dunia pangan khususnya pertanian, mungkin bukanlah hal yang bijak, dikarenakan untuk memberi makan jutaan orang, para pelaku usaha pertanian mesti memiliki lahan yang sangat luas dan seringkali menggunakan dalih dalih yang tidak sustainable untuk menghasilkan hasil tani yang cepat dan banyak.

Penggunaan bahan-bahan organik dalam permakultur terbukti meningkatkan kesuburan tanah dan kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Permakultur dapat memperkuat struktur tanah, meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas retensi. Oleh karena itu, permakultur dapat mengurangi resiko kekeringan dan mengurangi biaya yang perlu dikeluarkan oleh petani karena mereka tidak perlu menggunakan air dari PDAM.

Pelaksanaan permakultur dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dan memberikan kesempatan bagi petani untuk memperoleh bahan makanan mereka sendiri tanpa perlu mengeluarkan biaya lagi. Melalui permakultur, petani dapat mengurangi biaya yang perlu mereka keluarkan untuk memperoleh bahan pangan. Bahan pangan dari hasil permakultur juga terbukti memiliki lebih banyak nutrisi, sehingga bermanfaat bagi kesehatan para petani maupun konsumen yang membeli bahan pangan dari petani tersebut.

Sistem pertanian permakultur mampu memuat interaksi antar tumbuh-tumbuh dengan ekosistemnya. Hal tersebut dapat mendukung satu sama lain dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga, petani tidak perlu melalui berbagai kesulitan untuk mengurus pertanian permakultur. Selain itu, permakultur bisa diterapkan pada tumbuh-tumbuhan di kebun rumah seperti buah-buahan, sehingga masyarakat di Indonesia tidak perlu menjadi petani yang memiliki ladang besar untuk menerapkan permakultur.

Penerapan permakultur pada lahan pertanian dapat membantu meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Dengan permakultur, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida yang berbahaya bagi kesehatan manusia, serta hewan liar atau binatang ternak yang memakan hasil pertanian. Permakultur juga mampu mencegah pemanasan global karena konsep pelastarian alam dengan menanam berbagai tumbuh-tumbuhan serta menyuburkan lahan-lahan yang kritis akibat kerusakan lingkungan. Selain itu, penerapan permakultur memampukan manusia untuk mendaur ulang segala sumber daya alam yang ada, sehingga mencegah pemborosan dan pencemaran lingkungan.

*Prinsip Permanent Agriculture
Dalam melaksanakan segala hal tentu harus berlandaskan akan prinsip dan tujuan yang jelas. Termasuk dalam menerapkan permanen agrikultur ini. Selain ketiga etika tadi, permakultur juga berpedoman pada 12 prinsip-prinsip permakultur.
Diantaranya yaitu:
Kreatif menggunakan dan merespon terhadap sesuatu : memahami perubahan, memulai perubahan dalam skala kecil secara kooperatif, menanggapi perubahan system, Langkah cepat tingkat elemen, stabilitas pada tingkat system. Membayangkan kemungkinan dan campur tangan dengan cara yang efektif demi terciptanya ekosistem yang pas.
Mengamati dan Berinteraksi : Bertani tidak hanya bekerja bekerja dan bekerja. Terkadang kita perlu mundur satu langkah, dan mengamati apa yang terjadi, lalu berpikir tindakan apa yang harus diambil agar efektif.
Menangkap dan Menyimpan Energi : Energi yang melimpah di alam tidak selalu tersedia setiap saat, contohnya air saat musim hujan dan cahaya matahari saat siang hari. Sistem permakultur dibuat sedemikian rupa untuk menggunakan dan mencadangkan energi di alam.
Memperoleh Hasil : Permakultur sebagai sistem pertanian haruslah memperoleh hasil untuk memenuhi kebutuhan manusia dan alam.
Terapkan Pengaturan Diri dan Terima Umpan Balik : Jadilah terbuka untuk merubah perilaku yang tidak cocok/mengganggu untuk tanaman/perkebunanmu.
Gunakan dan Hargai Sumberdaya/Energi Terbarukan : Sumberdaya yang diutamakan dalam sistem permakultur bersifat dapat diperbaharui, seperti sinar matahari, angin, aliran air dan gas alam. Pembuatan sistem yang terintegrasi dapat menghasilkan sumberdaya terbarukan. Hal ini juga dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya yang terbatas
Produce No Waste : Prinsip yang menjadi unggulan dari permakultur adalah tidak dihasilkannya limbah yang dapat mencemari lingkungan. Hal tersebut dikarenakan prinsip dalam permakultur yang menggunakan sumberdaya yang dapat diperbarui, sistem yang terintegrasi dan kontinu, sehingga limbah dari setiap kegiatan dalam permakultur tetap dimanfaatkan secara efisien. Seperti sisa
Desain dari Pola ke Detail : mengenal pola, merancang system sederhana yang beekrja untuk berkemabnag secara alami ke yang kompleks, tampilan gambar yang lebih besar, tampilan holistic (kepala, hati dan tangan), tinjauan proses secara teratur.
Integrate Than Segregate : mengenali hubungan Kerjasama menciptakan hubungan yang menguntungkan, setiap elemen melakukan banyak fungsi, setiap fungsi penting didukung oleh banyak elemen, pengakuan kebutuhan masyarakat diluar individu.
Gunakan Solusi Kecil dan Lambat : Skala yang tepat dan manusiawi, mulai dari yang kecil, dukungan untuk inisiatif dan inovasi.
Keragaman Penggunaan dan Nilai : menghargai keanekaragaman hayati dan budaya untuk keseimbangan, kemungkinan kreatif, meningkatkan kemandirian dan ketahanan.
Gunakan Tepi dan Nilai Marginal : tepi sebagai peluang, perluasan keunggulan, sumber keragaman dan transformasi.

Konsep permakultur bisa digunakan tidak hanya untuk merancang lanskap kebun dan tanaman, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita agar kita lebih bisa menjalani hidup yang berkesadaran dan harmonis dengan alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *